Archive for the ‘ Poetry ’ Category

Doaku Untukmu (Seorang Sahabat)

Malam ini..

ada gundah menghampiri hati..

saat ini..

ada nelangsa menjumput di dalam kalbu..

Jam ini..

aku seakan kehilangan kesadaran yang membujukku semenjak pagi berlalu..

Menit ini..

aku seakan ketakutan akan sesuatu yang mungkin meninggalkanku..

detik ini…

aku seakan belum rela akan kepergian yang tidak dapat aku tahan..

Berjalanlah..

seperti saat aku pertama kali menjumpaimu

di ujung sebuah ruangan tempat kita banyak menghabiskan waktu bercerita, bersama dan berkumpul.

Melangkahlah..

karena masih ada ribuan kilometer hidup yang harus digawangi

diurai maknannya dan dibagikan dalam lantunan cerita yang tersyukurkan

Berdoalah..

semoga hari berlalu dengan suatu makna

tentang makna persahabatan dan rasa rindu..

Merenunglah..

semoga hidup kita dipanjangkan

untuk dapat bertemu lagi

dan merangkai banyak cerita..

untuk penghidupan kita di masa yang akan datang..

Selamat jalan kawanku

selamat jalan sahabatku

selamat jalan saudaraku

jemput impianmu disana

niatkan hatimu untuk sebuah surga yang tak tahu kapan pula datangnya…

semoga jika kelak bertemu, kau punya banyka cerita untuk dibagikan

kau punya banyak rasa rindu untuk dihamparkan

kalaupun tak pernah bertemu, jangan kau nafikkan hatimu tentang diriku

doakanlah aku selalu agar aku bisa meniti langkah kebaikan yang pernah kau tuai.

tunggulah aku di pintu surga-Nya, agar waktu tak dapat memisahkan lagi persahabtan kita

Insya ALLAH

(Sebuah Puisi untuk seorang sahabat terbaik yang pernah mengisi hidupku, “Mungkinkah kita terlupa, ALLAH ada janji-Nya, bertemu dan berpisah kita adalah rahmat dan kasih-Nya

Advertisements

UMMI 2 (SEBUAH SAJAK)


ummi…
kutuliskan sajak ini
kulukiskan luangan kekayaan hatimu yang tak pernah redup
dan kuabadikan dalam simponi kerinduan yang ku kemas di dalam cahaya mataku

kadang aku menangis
melihat banyaknya luka yang tak sengaja menggores kulitmu untukku
kadang ku bersedih melihat tekak-tekak keinginan yang kau lampaui demi keinginan anakmu
kadang ku terenyuh saat melihat kau bagikan remah-remah nasi yang tak sempat kau rasakan sendiri
kadang ku lunglai melihat betapa pengorbananmu tiada batas dan tiada ujung

aku masih merasakan relung hatiku koyak
hingga saat ini
aku belum bisa menggantikan air matamu
aku belum dapat mengembalikan senyum manismu
bahkan hingga kini pendidikanku menghujam ke atas awan
setitik madu belum bisa membayar berlian yang kau tiupkan di sela nafasku
aku masih belum bergeming dengan kenyamanan
aku masih silau dengan kerupaan
aku masih terpesona dengan kesenangan
kadang aku lupa betapa doa-mu membahana di ujung tangismu
kadang aku lupa tawa-mu telah lenyap di ulur pikiran yang panjang
kapan aku bisa membahagiakanmu

setiap saat aku menangis
setiap malam aku berpikir
kau sangat mencintaiku
anak-mu yang tiada henti lelah menarik nafas ini
siang malam kau menjatuhkan kata-kata indah yang ku telisik dalam mimpiku
aku sangat rindu kepada-mu…

Ya ALLAH
Jika manusia kecil ini sempat berlabuh
bertarung di jamaknya kehidupan
ijinkanlah impian-impian yang hamba tanam
impian-impian yang menggelora seperti api yang menyala
dapat kutiupkan ruhnya
sehingga menasbihkan keinginan menjadi kenyataan
demi seorang wanita yang tidak pernah habis perkaranya dalam hati dan jiwa
seorang manusia yang sangat kau agungkan
seorang “UMMI”

ALLAH YU BAARIK YA UMMI, YAA UMMI, YAA UMMI, YAA ABi WA UMMI



DISADUR DARI KOLEKSI PRIBADI

Lihat Bagian 1

UMMI (Sebuah Sajak)


Ummi..
Ketika goresan ini Ananda pikirkan serambi menuangkannya
Degup jantung berlari, melebihi kecepatan imajinasi
Ada kerinduan yang tertahankan
Seperti menahan linangan airmata yang hendak bergulir
Seperti menahan kehausan dari setitik air dibibir gelas
Rasanya air itu sudah dikerongkongan Ummi

Ummi…
Ananda rindu segelas teh darimu, ketika pagi Ananda terlupa
Ananda rindu usapan tanganmu di kepala ini
Ananda rindu aromamu Ummi
Aroma syurga yang seringkali terabaikan oleh waktu
Ananda rindu senyummu Ummi
Ananda rindu tawa manismu Ummi
Ananda rindu caramu memperlakukan diri ini, ketika sakit
Engkau menemaninya seolah Ananda adalah belahan jiwa abadimu
Engkau membelainya seolah kasih takkan pernah hilang
Engkau menyuapinya seolah bayi yang belum tahu apa-apa
Inilah segala kerinduan itu Ummi

Ummi…
Ananda ingat akan dosa-dosa ini padamu
Masih ingatkah Ummi teriakan kecil Ananda?
Ketika Ananda tidak menemuimu di rumah, saat-saat pulang dari sekolah
Masih ingatkah ummi, berbagai permintaan Ananda disetiap Senin?
Masih ingatkah Ummi,berapa kali Ummi menangis karena ulah Ananda
Dan saat hari raya pun Ummi menangis dengan kerinduan
Ahhh….!! Ananda ingat pertanyaan pertanyaan Ummi yang dijawab dengan berbagai alasan
Apa tidak sayang pada Ummi?
Apa tidak rindu sama Ummi?
Apakah badan Ananda gemuk?
Apakah kerja Ananda benar?
Apa usaha Ananda lancar?
Jangan bikin malu nama keluarga yah.. Ananda
Jangan lupa sholat yah.. Ananda

Ummi dengan kelakuan Ananda…
Apakah engkah pernah bosan Ummi? TIDAK
Apakah engkau pernah mengutuki Ummi? TIDAK
Apakah engkau pernah memukul Ananda Ummi? TIDAK
Apakah engkau pernah berkata kasar pada Ananda Ummi? TIDAK
Segalanya engkau katakan dengan CINTA
Engkau ajarkan KELEMBUTAN
Kini kelembutanlah yang ada dihati ini
Engkau ajarkan cara bertutur dengan keindahan
Engkaulah keikhlasan yang selama ini terabaikan
Engkaulah doa doa dalam setiap langkah Ananda
Engkaulah cinta dalam setiap langkah

Ummi..
Maafkan atas airmata yang telah engkau kucurkan selama ini
Maafkan atas keegoan yang tidak begitu beralasan bagimu
Maafkan atas isak yang engkau dengarkan ketika sayangmu terabaikan
Maafkan atas segala decisan yang menggundahkan hatimu
Maafkan atas kelaki-lakian Ananda

Ummi…
Jangan menangis lagi karena laki-laki keras ini

Kini hanya diatas kata bhakti ananda berjalan
Ananda akan bawa segenggam mimpi yang ananda janjikan
Namun ketika mimpi itu hanyalah genggaman kosong di telapak ini
Maafkanlah Ananda untuk kesekian kali
Maafkanlah Ananda atas segala kegagalan
Maafkanlah Ananda yang tidak bisa menjadi batang yang rimbun
Maafkanlah.. atas segala kedurhakaan ini

Dengan apa Ananda mesti membalas segala kasihmu, Ummi
Dengan apa Ananda mesti membalas segala motivasimu, Ummi
Disaat-saat Ananda terluka
Engkau katakan, bahwa Ia bukanlah warna hidupmu
Engkau katakan, bahwa ada yang terbaik yang akan datang padamu
Engkau katakan, bahwa untuk yang terindah itu jalannya terkadang tidak mudah

Kini airmata ini mengalir Ummi
Dan degup ini tidak tertahankan
Ananda tahu, betapa engkau lebih merasakan kerinduan saat ini



DISADUR DARI INBOX FACEBOOK MILIK PRIBADI DARI KIRIMAN SEORANG SAHABAT YAYAN INDRA IRAWAN

lihat bagian 1

Bertafakur DI Jalan Luhur

Sahabat Ihsan, karena sekarang saya sudah pindahan ke sebelah, silahkan membaca berita lini lengkapa pada LINK ini.