“MEMBANGUN KARIR” VERSUS “MENUNGGU KARIR” : MEMILIH KARIR UNTUK HIDUP ANDA

Beberapa hari yang lalu saya bertanya ke seorang teman yang baru saja menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi.

“sudah daftar dimana saja?.” Tanyaku

“banyak, salah satunya di perusahaan besar.” Ia menjawab dengan nada santai sambil sibuk memainkan mousenya mengklik beberapa situs lowongan pekerjaan salah satunya di ECC UGM.

“gak coba buka usaha sendiri, bukannya sudah punya banyak modal ilmu, kenapa tidak digunakan, siapa tahu bisa membuka lapangan kerja baru.” Tanyaku lagi.

Ia masih sibuk dengan urusan klik mengklik halaman web yang ia peroleh cuma dari mengetikkan kata sakti “ lowongan pekerjaan” di sebuah situs mesin pencari yang lagi heboh karena hampir saja di akuisisi oleh pemilik sebuah situs email-emailan yang terkenal.

“gak ada modal, lagian lebih enak nyari kerja, lebih jelas masa depannya, gaji juga bisa dapat terus tiap bulan, konstan, dan yang pasti punya jenjang karir yang matang.” Ia menjelaskan konsep yang ia pegang tentang bagaimana sebuah karir.

Saya hanya menganguk meng-iya-kan, dalam hati saya, saya mengakui bahwa apa yang baru saja ia omongkan memiliki banyak kebenaran sekaligus memiliki banyak kesalahan atau lebih tepatnya salah persepsi di beberapa bagian.

Beberapa orang lagi yang saya tanya tentang hal “karir” mereka di masa mendatang merasa bahwa “bekerja adalah karir, dan karir adalah bekerja”, “ karir itu sebuah prestisi, coba anda bayangkan menjadi seorang kepala departemen quality control, padahal sepuluh tahun yang lalu anda seorang pegawai biasa”,”karir adalah pencapaian yang luar biasa, dulunya anda yang pesuruh, sekarang anda yang menyuruh”, “ngapain kerja kalau karirnya saja tidak jelas”. Saya cuma terbengong-bengong mendengar semua argumentasi yang tiada habisnya tentang karir. Saya akui bahwa saya adalah salah satu orang yang sempat berkecimpung di dunia karir mengkarir, bahkan hingga saat ini, lamaran pekerjaan, curriculum vitae, ijazah masih saja menghiasi hari-hari saya, tapi sekarang saya sudah tidak terlalu antusias dengan karir-karir seperti itu, saya hanya ingin bisa bekerja sebentar untuk mencari modal dan pengalaman lalu mencoba membangun karir saya sendiri.

Apakah Karir itu??.

Beberapa pakar mendefinisikan karir sebagai sebuah perjalanan pekerjaan seseorang di dalam organisasi. Perjalanan ini bisa menjadi panjang namun dapat pula menjadi sangat singkat. Banyak hal yang dapat mempengaruhi panjang pendeknya karir seseorang misalnya sifat dari manusia itu sendiri. Jika manusia yang bersangkutan mampu beradaptasi, tidak mengalami kebosanan dengan kebiasaan, rutinitas, lingkungan dan keadaan yang sama ia alami setiap hari maka ia akan bertahan. Sebaliknya, jika ia adalah orang yang cepat mengalami kebosanan, tidak mampu beradaptasi maka ia akan mengalami beberapa kali perjalanan karir dalam hidupnya.

Ketika orang mengatakan bahwa hidup itu adalah sebuah pilihan, maka saya meng-iya-kan pernyataan itu. “Hidup itu pilihan. Tapi untuk memilih yang baik, Anda harus tahu siapa diri Anda dan apa yang Anda perjuangkan, ke mana tujuan Anda, dan mengapa Anda ke sana.”, ini pesan yang disampaikan oleh Koffi Anan, mantan sekjen PBB.

Hidup itu pilihan apakah kita mau menjadi kaya atau mau menjadi miskin, kalau kita ingin menjadi kaya maka kita akan bekerja keras, terus melangkah seberapa besar aral melintang di depan kita. Jika kita takut melangkah, tidak mau berusaha dengan keras, menerima nasib maka selamanya kita akan menjadi miskin. Hidup itu memilih di antara menjadi baik dan buruk, orang tidak dapat memilih kedua-duanya karena dua hal tersebut adalah bertentangan satu sama lain. Ketika seseorang memilih menjadi baik maka dia adalah orang yang baik, dan ketika dia memilih menjadi orang yang buruk, maka itu adalah pilihan hidupnya juga.

Karir itu seperti lagu "mau di bawa kemana karir kita"Begitu pula karir,karir itu sebuah pilihan yang sangat sulit, sesulit memilih pendamping hidup sepertinya, kalau kita salah memilih karir maka bisa saja kita akan “bercerai” dengan karir kita, hal ini sama saja dengan ketika kita memilih pendamping hidup, jika kita salah memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidup kita maka kita akan mengalami penyesalan, hal yang paling buruk ketika terjadi ketidakcocokan adalah terjadinya perceraian.

Beberapa orang memilih karir dengan menunggu, menunggu sampai lima tahun, sepuluh tahun atau bahkan sampai tiga puluh tahun hanya untuk mengejar sebuah karir yang dianggap prestisius. Hal ini persis seperti yang disampikan oleh haneman et al.(1983)  “Perjalanan karir seorang pegawai dimulai pada saat ia menerima pekerjaan di suatu organisasi. Perjalanan karir ini mungkin akan berlangsung beberapa jam saja atau beberapa hari, atau mungkin berlanjut sampai 30 atau 40 tahun kemudian. Perjalanan karir ini mungkin berlangsung di satu pekerjaan di satu lokasi, atau melibatkan serentetan pekerjaan yang tersebar di seluruh negeri atau bahkan di seluruh dunia”. Beberapa orang membangun sendiri karirnya, hanya bermodalkan nekat dan “BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM” mereka tantang dunia untuk sebuah kemenangan atau kehancuran mereka sendiri. Sekali lagi karir adalah bagian dari hidup dan kita harus memilih apakah menjadi “pembangun karir atau penunggu karir”. Tidak ada yang buruk dari keduanya, semuanya baik, tergantung darimana seseorang memandang kedua hal berbeda itu. Keduanya memiliki keuntungan dan kerugian sendiri-sendiri.

Penunggu Karir.

Seseorang yang menunggu karir, akan melakukan apa saja untuk mendapatkan karir yang ia inginkan, selain karena karir yang ia inginkan adalah sebuah jabatan yang sangat prestisius, karir juga menjadi kulminasi dari sebuah perjalanan panjang bagi para pekerja atau pegawai yang menunggu karir sekian lama di hidupnya.

Tangga Karir : Butuh Kesabaran Untuk Menggapai Lantai Tertinggi

Mendaki puncak anak tangga karir yang melelahkan

Menurut Walker (1980), bagi pegawai, karir bahkan dianggap lebih penting dari pada pekerjaan itu sendiri. Seorang pegawai bisa meninggalkan pekerjaannya jika merasa prospek karirnya buruk. Sebaliknya, pegawai mungkin akan tetap rela bekerja di pekerjaan yang tidak disukainya asal ia tahu ia mempunyai prospek cerah dalam karirnya. Orang –orang yang menunggu karir mungkin memegang prinsip dari kata-kata mutiara yang diumbar oleh Alexander Dumas pere seorang penulis prancis “Kearifan manusia adalah hasil penjumlahan dua kata: menunggu dan berharap.”. saya lebih senang mengatakan “menunggu jenjang karir naik, berharap perubahan hidup lebih baik dari menunggu karir menjadi baik”

Menjadi seseorang yang mengejar karir memiliki keuntungan sendiri seperti:

  • Anda mempunyai kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang konstan setiap bulan, setiap tahun  atau mungkin sekali dalam lima tahun anda akan merasakan kenaikan gaji. Biasanya kenaikan gaji diiringi dengan kenaikan jenjang karir, semakin tinggi jenjang karir anda maka semakin besar juga gaji yang anda terima.
  • Tidak memerlukan modal besar untuk memulainya, anda hanya perlu menyediakan waktu untuk membuat curriculum vitae, surat lamaran pekerjaan, menyediakan sedikit waktu untuk psikotes yang lumayan melelahkan dan berpakaian rapi untuk mengikuti wawancara. Menunggu pengumuman dan akhirnya anda akan merasa semua perjuangan anda tidak menjadi sia-sia ketika anda disodori kontrak kerja.
  • Orang-orang yang menunggu karirnya maju biasanya mendapatkan banyak fasilitas-fasilitas pendukung dari organisasi misalnya asuransi, rumah, kendaraan dan lain-lain. Fasilitas-fasilitas ini biasanya diberikan oleh organisasi untuk menarik minat para pekerjanya untuk tetap bertahan atau dalam arti kata “mengikat pegawai dengan hal yang jadi kebutuhannya”. Kalau saya menyebutnya lebih halus dengan “memanjakan pekerja biar tidak lari kemana-mana dengan segala fasilitas (siapa yang tidak mau coba ????”). Sebuah perusahaan akan semakin bonafit dan ditunggu oleh “penunggu karir” ketika organisasi mampu memberikan fasilitas yang kelasnya mentereng dan menyilaukan mata.
  • Orang-orang yang menunggu karir hanya mengerjakan apa yang telah dikerjakan oleh perusahaan, tidak perlu memulai dari nol, semua jenis pekerjaan yang harus dikerjakan selama hari ini, besok maupun sepuluh atau lima puluh tahun ke depan telah disediakan oleh organisasi tempat bekerja, terobosan-terobosan baru bisa memberikan rewards bagi pemilik ide sedangkan “penunggu karir” yang cenderung diam tidak akan mendapatkan punishment dari perusahaan.

Namun dibalik semua rasa “enak” yang diterima, ada beberapa kekurangan yang mungkin akan dirasakan oleh orang-orang yang menunggu karir, beberapa dapat disebutkan sebagai berikut :

  • Orang-orang yang menunggu karir harus bersaing dengan orang-orang yang juga menunggu karir untuk menaikkan jenjang karirnya, perlu ada usaha keras, cara-cara yang baik, cara-cara yang kotor, dan bahkan mungkin tidak sehat telah menjadi hal yang biasa di sini. Setiap orang mempunyai kecenderungan untuk lebih baik dari orang lain, tidak ingin dipandang remeh apalagi dalam hal urusan perut merupakan urusan setiap orang dan menjadikan beberapa orang sangat sensitif tentang hal ini.
  • Waktu untuk mendapatkan jenjang karir yang lebih baik tidak dapat diprediksikan, ada kalanya waktu yang ditunggu adalah sangat cepat, ada kala tingkat kebosanan menghingggapi ketika apa yang diinginkan tidak berhasil didapatkan, sekian lama menunggu, karir yang diinginkan hanya sebatas di awang-awang, sekian lama menunggu karir stagnan dan tidak bergerak kemana-mana.
  • Orang-orang yang “menunggu karir” terancam kehilangan mata pencaharian yang selama ini menghidupi mereka bahkan kehilangan karirnya selama-lamanya ketika organisasi tempat ia bekerja mengalami kebangkrutan atau terjadi pegurangan tenaga kerja.
  • Ada batas waktu,dalam hal ini umur, bagi mereka yang “menunggu karir”. Ketika batas waktu telah selesai maka penunggu karir harus berhenti karirnya sehingga karir seseorang akan berhenti pada tahap dimana ia berada. Dia tidak mungkin lagi melanjutkan karirnya pada organisasi tersebut.

Pembangun Karir.

Nah, lain “penunggu karir” lain pula para “pembangun karir”. Para pembangun karir ini berpegang teguh pada prinsip dan kata-kata mutiara seperti yang diucapkan oleh Niccolo Machiavelli, penulis terkemuka Italia “Enterpreneur secara sederhana berarti mereka yang memahami sedikit perbedaan antara rintangan dan peluang serta mampu mengubah keduanya menjadi keuntungan.”.

Para pembangun karir adalah orang-orang yang merasa bahwa mereka harus berusaha untuk menang “Menang bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah usaha untuk menang (Zig Ziglar)”. Kesempatan selalu ada dengan kemampuan mereka “Alam menciptakan kemampuan. Keberuntungan melengkapinya dengan kesempatan.(François de la Rochefoucauld)”. Selalu ada harapan untuk lebih baik “Di mana tidak ada harapan, di situ tidak ada usaha keras.(Samuel Johnson)”. Adanya keinginan dan mimpi untuk sukses serta tidak takut gagal “Sebesar apa sukses Anda diukur dari seberapa kuat keinginan Anda, seberapa besar mimpi-mimpi Anda, bagaimana pula Anda mampu mengatasi kekecewaan dalam hidup Anda.(Robert T Kiyosaki)”. Ide-ide kreatif yang dikonversikan menjadi peluang “Ide yang bagus sudah umum, yang tidak umum adalah mereka yang bekerja keras untuk mewujudkan ide tersebut.(Ashleigh Brilliant)”.

Bagi orang yang membangun karir, resiko dan keuntungan adalah setara, selalu ada resiko disetiap keputusan, dan selalu ada keuntungan di setiap keputusan. Bagi mereka, mencoba adalah sesuatu yang harus dilakukan tidak peduli apapun hasilnya yang penting kerja keras harus dilakukan. “penunggu karir” dan “pembangun karir” sama-sama bekerja keras dalam mencapai apa yang mereka inginkan, bedanya adalah orang yang menunggu karir bekerja keras untuk orang lain yang mempekerjakannya, memberikan segala tenaga, usaha, waktu dan pikiran untuk kemajuan organisasi, terkadang orang-orang ini tidak menjadi dirinya sendiri, coba saja tengok para “penunggu karir” demi mengejar  karir mereka akan sampai lupa makan, tidak sempat mengurus diri mereka sendiri, lupa istirahat, lupa bahwa mereka punya hidup lain selain bekerja,  ini dikarenakan setiap upaya yang ia lakukan adalah untuk membesarkan organisasi tempat ia bekerja, setiap usaha yang dilakukan digunakan untuk mencari sisi postif dari sudut pandang orang-orang yang memiliki pengaruh sehingga jaminan karir cemerlang bisa semakin cepat berada di depan mata.

Para “pembangun karir” melakukan kerja keras untuk mereka sendiri, tidak bagi siapa-siapa, kerja keras yang mereka hasilkan bagi mereka sendiri, membesarkan usaha dan karir mereka sendiri. Inilah yang membedakan keduanya. Mereka tidak perlu mencari muka dengan siapa-siapa karena mereka bersaing bukan dengan siapa di perusahaan namun dengan kompetitor di luar sana.

Ada kelebihan dan kekurangan menjadi seorang pembangun karir, keuntungan yang dihasilkan mungkin sebanding dengan kerugiannya. Beberapa kelebihan yang mungkin di dapat adalah:

  • Para pembangun karir tidak memerlukan kasta, semua orang bisa sukses asalkan mempunyai jiwa untuk membangun karir, tidak peduli anda seorang sarjana, tidak bersekolah, jika anda percaya bahwa setiap manusia bisa sukses dari hasil usaha dan kerja kerasnya sendiri maka ia akan sukses. Konsep keadilan yang menurut saya sangat adil. Setiap orang punya hak untuk menjadi sukses, tidak memandang usia, umur, pendidikan, dan agama.
  • Anda dapat menjadi direktur, anda tidak perlu menunggu waktu 10 tahun atau bahkan 20 tahun untuk menunggu kesempatan hanya untuk menjadi manajer seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang menunggu karir. Anda tidak perlu bersaing dengan orang-perorang untuk mendapatkan karir yang anda inginkan. Ketika anda menjadi pembangun karir, anda bisa menjadi apa saja yang anda inginkan. Anda dapat menjadi direktur, manajer, pekerja biasa ketika anda menjadi pembangun karir.
  • Anda tidak perlu merasa tidak mendapat pekerjaan dan kehilangan pekerjaan. Daya kreatifitas, kemauan dan tekad yang kuat bisa menjadikan anda maju. Anda bahkan dapat membuka keran-keran air yang selama ini belum terbuka, menjadi penyambung hidup bagi banyak orang di luar sana bagi orang-orang yang belum memiliki karir. Membangun karir orang lain lebih baik daripada hanya menunggu karir kita menanjak tidak jelas kapan akan memenuhi tuntutan yang kita inginkan.
  • Tidak ada usia pensiun dalam kamus “sang pembangun karir”, ketika anda menjadi pembangun karir maka anda akan menikmati usaha anda seumur hidup bahkan keturunan anda bisa mewarisi usaha anda, jika karir yang dibangun sukses. Anda akan menikmati pundi-pundi yang terus mengalir. Anda tidak perlu takut tidak mendapatkan apa-apa setelah semua kerja keras anda selama ini. anda yang memulai maka anda pula yang akan menikmati semuanya.

Tidak ada yang sempurna di muka bumi ini, sesuatu yang memiliki kelebihan pasti memiliki kekurangan, begitu pula dengan para pembangun karir, ada beberapa kerugian yang harus mereka terima, misalnya:

  • Pendapatan para pembangun karir tidak selalu konstan setiap bulannya, kadang-kadang para pembangun karir bisa menerima “limpahan” yang sangat banyak, terkadang pula para pembangun karir harus menerima kenyataan hidup bahwa keadaan selalu tidak seindah yang selalu di bayangkan sehingga dibutuhkan kerja keras yang tidak kenal lelah dan menyerah di awal untuk membangun sebuah kematang konsep yang mumpuni.
  • Menjadi pembangun karir berarti memulai semua hal dari nol, butuh kesabaran, kerja keras harus melakukan sesuatu yang mungkin terlihat sangat baru. Namun disinilah peranan seorang pembangun karir, ketika ia telah memilih membangun karirnya maka pertimbangan serta kesiapannya untuk menerima segala hal yang mungkin dialaminya, baik itu kesiapannya untuk menerima kenyataan bahwa ia telah benar-benar sukses atau bahkan kenyataan bahwa ia harus menjadi orang yang gagal.
  • ·         Segala sesuatu dalam kaitannya dengan para pembangun karir serba tidak pasti. Organisasi belum pasti berjalan dengan baik dan lancer setahun ke depan, sepuluh tahun ke depan atau bahkan seminggu ke depan. Ketidakpastian kapan keuntungan yang ditunggu akan datang. Semua butuh usaha keras dari pembangun karir untuk memberikan “nyawa” kepada apa yang dia mulai.

“Menunggu karir” dan “Membangun karir”.

Tidak ada yang mudah, semuanya sulit, anda berpikir semuanya seperti membalikkan telapak tangan, anda salah. Semua butuh pengorbanan tidak ada yang berjalan instan. Semuanya butuh totalitas, loyalitas dan keseriusan. Tidak ada “Orang yang menunggu karir” yang tiba-tiba masuk ke sebuah organisasi kemudian langsung menjadi seorang direktur, manajer atau kepala staf (enggak tahu ya, kalau yang lewat jalur tidak resmi, misalnya nih, si bapak direktur utama di suatu organisasi terus kemudian anaknya diangkat menjadi manajer untuk meneruskan “jabatan atas dasar kekeluargaan”). Semuanya butuh waktu, usaha dan kesabaran tingkat tinggi untuk mencapai hasil yang diinginkan

Karir terkadang lurus, mulus, bengkok dan berlubang seperti jalan rayaTidak ada pula “Orang yang membangun karir” yang tiba-tiba langsung menuai kesuksesan, butuh waktu dan perjalanan panjang untuk meneguk manisnya sebuah perjuangan. Butuh waktu lama untuk membangun kepercayaan besar dari banyak pihak. Butuh banyak air mata yang ditumpahkan untuk melihat betapa banyaknya jalan berlubang, jalan kerikil, jalan becek, jalan berkelok untuk sampai kepada jalan yang mulus dan lurus.

Semua butuh proses panjang, semua butuh ketekunan dan keuletan, tidak bagi seorang “penunggu karir” namun juga bagi seorang “ pembangun karir”. Oleh karena itu, tidak ada yang buruk dari keduanya. Semuanya baik dan sama baiknya, tidak ada yang lebih baik antara satu dengan yang lainnya. Keduanya pilihan tinggal mana yang akan dijalani oleh kita. Tinggal manusia yang menjalaninya. Kalau manusia yang menjalaninya selalu serius, tidak pernah menyerah dan selalu sabar dengan apa yang dijalaninya maka ia akan menjadi pemenang baik itu sebagai seorang “penunggu karir” atau bahkan “pembangun karir”. Kalau yang menjalani tidak serius, mau di beri jabatan presiden atau bahkan direktur sekalipun tidak akan berguna atau memberi nilai tambah bagi apa yang dikerjakan. Toh, menjalani keduanya adalah sama baiknya dibandingkan dengan orang-orang yang hanya duduk, kemudian tidur lalu bangun lagi tanpa melakukan apa-apa (maksud saya menganggur dalam hal ini, sekali lagi saya cuma ingin lebih halus dalam menyampaikan) atau yang hanya menunggu ada durian runtuh turun dari langit layaknya seperti punguk merindukan bulan tanpa melakukan apa-apa.

Menjadi “orang yang membangun karir” atau “orang yang menunggu karir” hanya merupakan sebuah pilihan dan cara pandang manusia dalam mengambil keputusan. Seperti seseorang memilih motor merk A dan merk B dengan budget yang ia miliki. Tidak ada paksaan harus menjadi sesuatu yang tidak ia kehendaki, karena bagaimanapun perjalanan hidup manusia dalam berkarir adalah ia sendiri yang menentukan. Pilihan hidupnya sekarang menggambarkan keadaannya di depan. Tidak ada penyesalan karena waktu terus bergulir sehingga di butuhkan perencanaan matang bagi setia individu sebelum memutuskan.

Banyak orang tua mengatakan kepada anak-anaknya “tidak usah menjadi seorang ‘yang membangun karir’, masa depannya tidak jelas kalau tidak berusaha keras terus, ke depannya pasti bangkrut, modal habis, nanti mau makan apa, kenapa tidak menjadi seorang ‘yang menunggu karir’, hidup lebih jelas, masa depan terjamin dan tidak perlu modal, kalau mau menjadi seorang ‘yang membangun karir’ nanti dimulainya ketika sudah bisa mengumpulkan modal banyak”. Namun sekali lagi itu pilihan hidup.

Bekerja atau berkarir merupakan tuntutan hidup bagi manusia yang telah memasuki masa produktif, tidak mungkin manusia yang telah masuk masa usia produktif terus menggantungkan segala kebutuhannya kepada orang lain sehingga ia perlu bekerja atau berkarir, sehingga bisa dikatakan bahwa berkarir merupakan sebuah tuntutan hidup, masalah yang terjadi adalah apakah ia akan menjadi seorang yang “membangun karirnya” dari nol, atau orang yang “menunggu karir” untuk maju semua berawal dari pilihan bukan sebuah kebetulan atau sebuah keberanian dalam mencoba-coba, tidak mungkin seseorang mau menyerahkan kehidupan masa akan datangnya pada sebuah percobaan yang belum pasti, Manusia dibatasi oleh usia, orang yang menunggu karir baik itu di negeri atau swasta memiliki limitasi dalam usia untuk memulai karir mereka Sedangkan para pembangun karir tidak dibatasi oleh usia, mereka boleh memulai kapan saja mereka mau, sehingga perlu dipikirkan secara matang tidak boleh ada rasa keterpaksaan dalam memilih menjadi seorang yang menunggu karir atau yang membangun karir, semuanya sama baiknya sehingga jika dilakukan dengan perasaan terpaksa akan menghasilkan hasil yang “terpaksa” pula, namun jika dikerjakan dengan ikhlas maka semua yang datang dan apapun yang terjadi maka semuanya akan terasa jauh lebih mudah dan memberikan perasaan tenang serta nyaman bagi yang menjalankannya .

Jadi, apapun pilihan anda, itu semuanya baik buat anda, menjadi seorang yang “menunggu karir” atau  seorang yang “membangun karir”, karena yang mengerti diri serta kapasitas pekerjaan yang anda sukai adalah anda bukan orang lain tapi diri anda sendiri, sehingga kedewasaan berpikir akan memberikan anda pilihan yang positif bagi anda serta tidak membebani diri anda serta pikiran anda untuk menjalani keputusan yang telah anda pilih, keputusan penting inilah yang akan membimbing anda dalam meraih segala apa yang anda harapkan dari karir yang anda “tunggu” atau karir yang anda “bangun”.

PUSTAKA:
http://strategimanajemen.net/2009/03/30/3-jawaban-kenapa-karir-anda-mentok/
http://4antum.wordpress.com/2010/11/13/memlai-karir-dari-nol/
http://zeithmind.blogspot.com/2010/11/proses-perkembangan-karir-bagi-remaja.html
ab-fisip-upnyk.com/files/bab_9_manajemen_karir.pdf
http://suar.okezone.com/wisdom
  1. cool gan

  2. salam kenal ya..🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: