MENUJU PERGURUAN TINGGI IDAMAN ALA ROBERT LANGDON DAN KATHERINE WATSON

Dari Fiksi Ke Dunia Nyata

Dari Fiksi Ke Dunia Nyata

Jika anda pernah membaca buku the Lost Symbol karangan Dan Brown. Anda pasti akan terpana dengan alur cerita yang mengagumkan. Belum lagi tokoh, plot, dan lokasi cerita serta jalan cerita yang susah di tebak. Semuanya mengagumkan, namun apa yang sebenarnya penulis ingin tekankan disini adalah bukan kehebohan yang dibawa buku ini, bukan pula kontroversi yang selalu menyalak di setiap penerbitan buku karya Dan Brown seperti The Davinci Code, Angel and Demon, Digital fortress hingga yang terbaru yaitu the lost symbol. Ketika anda membuka bab ke 6 dari buku ini. Jika anda memang menilik ada satu hal unik yang memang sebenarnya bukan cerita fiksi di dalam bab ini. Satu hal unik itu ketika Robert Landon membuka kelasnya di Harvard University mengenai Simbil-simbol okultisme. Ya, ada yang menarik cara dia mengajar, cara menhgajar yang sama sekali berbeda yang diterapkan di Indonesia. Beberapa dosen di universitas ternama mungkin sudah mulai menerapkan cara seperti ini, namun jika jumlah dose nada sejuta dan yang menerapkan hanya 10 orang, maka dapat dikatakan sebenarnya tidak ada dosen yang menerapkan hal tersebut.
Semangat perubahan itu akan sampai pesannya

Semangat perubahan itu akan sampai pesannya

Mari kita lihat lagi sebuah film klasik dari tahun 2003 yang dibintangi oleh Julia Roberts, Kirsten dunst, dan Julia stiles yaitu monalisa smile. Melangkah ke film yang memiliki cerita sangat ringan dan tidak membuat pusing kepala. Film yang mengangkat perjuangan seorang Katherine Watson dalam mengangkat derajat mahasiswa putrinya di sebuah perguruan yang memang di khusukna bagi wanita. Sebagian orang mengatakan film ini kurang menarik dan berkelas tidak seperti avatar, harry potter atau the lord of the ring. Tapi bagi penulis, film ini sangat berkesan karena menampilkan sesuatu yang tidak biasa. Jika anda beranjak ke scene dimana sang dosen memulai kuliahnya maka anda akan tahu apa yang penulis bicarakan.
Ada satu hal yang menarik dari buku dan film yang di tulis diatas. Kedua film tersebut memberikan sedikit potret pendidikan dan pembelajaran mereka di sekolah tinggi seperti apa. Ketika anda membaca bagaimana Robert Langdon membuka kelasnya maka anda akan segera tahu bahwa ia tidak membuka kelasmnya dengan materi dan presentasi dengan slide sepanjang jam jumlah SKS mata kuliah tersebut. Kuliah tersebut dibuka dengan sebuah pertanyaan yang mengharuskan siswa untuk berpikir kritis dan bersuara. Bagaimana dengan monalisa smile?. Anda bisa mendapat pelajaran berharga juga dari film ini, tengok ketika Julia Roberts membuka kelasnya dengan sebuah slide yang kemudian menjadi bahan diskusi yang sangat menarik.
Sekarang mari kita tengok gaya penyampaian pembelajaran di perguruan tinggi Indonesia. Ketika kelas sudah dimulai dosen akan masuk lalu menyerahkan absen kepada mahasiswa, dosen kemudian kan bertanya jika ada tugas yang harus di kumpulkan. Jika tidak ada dosen akan mulai membuka materi yang diajarkan hari itu. Melalui perantara papan tulis, slide show, ataupun OHP, sang dosen akan menjelaskan semuanya sampai porsi SKS yang dibebankan pada mata kulaih tersebut.
Sebuah sistim pendidikan yang aneh menurut penulis. Untuk menjadi sebuah perguruan tinggi yang di idamkan dan di banggakan, sudah sepatutnya perguruan tinggi mengganti cara belajar mengajar yang begitu “ membosankan”, karena saking membosankannya budaya titip absen dan tidur di kelas selama kuliah berlangsung menjadi pemandangan biasa. Para mahasiswa harus di ajari bagaimana bersikap aktif, baik itu aktif setelah kegiatan belajar mengajar dan juga aktif di dalam kelas. Sistem pengajaran “hanya dosen yang pintar” semestinya mulai di tanggalkan dengan mengganti sistem pendidikan yang lebih baik. Bukan bermaksud mengatakan bahwa sistem pendidikan yangs ekarang diterapkan adalah jelek, namun jika ada yang lebih baik dan sudah terbukti mengapa kita tidak mencoba mencontoh. Toh yang dicontoh adalah sistem pembelajaran kelas wahid yang dimiliki oleh perguruan tinggi kelas wahid. Benar kata bijak mengatakan ‘ jika anda berteman dengan penjudi, maka anda akan menjadi penjudi juga”, maksud dari petuah tadi berhubungan dengan masalah bagaimana menjadi sebuah perguruan tinggi yang di idamkan adalah jika kita mengambil contoh dari sebuah perguruan tinggi yang sudah ternama dan mendunia maka mau tidak mau kita akan menjadi perguruan tinggi idaman yang mendunia juga. Saking bagusnya sistem pendidikan di luar sana jika anda bertanya kepada seluruh anak SMA apakah mereka mau kuliah di negara seperti amerika, jerman, Australia, jepang dan inggris, maka mereka akan serentak menjawab IYA, karena dengan berkuliah disana prestige yang didapatkan serta kesempatan bekerja lebih cepat ketika pulang ke negeri sendiri lebih bisa di jamin, karena perusahaan-perusahaan menilai sistem pendidikan di luar bisa menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi tinggi (pada kasus penerimaan dosen pun, lebih di utamakan bagi mereka yang sedang mengambil pasca sarjana di perguruan tinggi luar negeri, kenaa bisa seperti itu?.
Bermimpi dapat nilai A

Bermimpi dapat nilai A

Apa yang kurang pada sistem pendidikan perguruan tinggi yang kita anut sekarang adalah mahasiswa hanya dijadikan penonton tingginya ilmu sang dosen. Mahasiswa dipaksa menerima semua hal yang disampaikan oleh dosen mereka, ke aktifan mereka di dalam kelas menjadi nihil sehingga mebuat kelas membosankan, tidak efektif karena sebagian mengobrol dan sebagian tidur. Ujian akhir dan ujian tengah semester adalah ajang seberapa sering anda masuk dan mendengarkan dosen berceloteh karena soal ujian tidak akan jauh dari apa yang diomongkan oleh sang dosen atau apa yang tertulis di slide pengajaran sang dosen. Atau jika anda beruntung anda akan mendapati bahwa soal ujian yang dikeluarkan dosen pada tahun ini adalah soal yang sama dikeluarkan pada tahun lalu, artinya sang dosen adalah seorang “pemalas”. Akhirnya kualitas lulusan yang dikeluarkan hanya sebatas slide show dan soal jiplakan. Bagaim,ana mungkin kita bisa membangun sebuah perguruan tinggi idaman dan unggul hanya dengan ini.
Konsntrasi dan semangat serta fokus dan minat yang tinggi, kunci keberhasilan

Konsntrasi dan semangat serta fokus dan minat yang tinggi, kunci keberhasilan

Sistem pendidikan yang menurut penulis baik adalah sistem pendidikan yang aktif. Dimana dosen adalah seorang fasilitator. Sebelum kelas berakhir, mahasiswa di wajibkan membaca buku, jurnal, penelitian, atau mungkin bahan dari internet untuk bahan diskusi pertemuan mendatang. Ketika kelas telah dimulai dosen memberikan sedikit kuliah dan dsetelah itu dilakukan dialog atau diskusi mengenai beberapa hal dan siswa akan memberikan tanggpan menurut apa yang mereka telah baca di dalam referensi mereka . Keaktifan juga dimasukkan sebagai proses penilaian. Dengan mengajarkan keaktifan kepada mahasiswa diharapkan menghasilkan kualitas lulusan yang memiliki pengetahuan luas dan tanggap terhadap masalah yang terjadi di dunia kerja.
Sangat susah memang merubah perilaku dosen dalam mengajar apalagi mahasiswa. Orang akan berkata ketika membaca artikel ini “ anda tidak bisa memaksakan mahasiswa an dosen di Indonesia untuk menjadi mahasiswa atau dosen seperti di amerika untuk menuju perguruan tinggi yang di idamkan, susah bung” . lalu kemudian penulis akan bertanya “ apa yang susah, apakah mahasiswa dan dosen di amerika atau belahan dunia lain memiliki 5 otak sehingga mereka bisa membangun sebuah lingkungan belajar yang baik dan nyaman serta diterima dunia, apakah dosen dan mahasiswa di luaran sana memiliki waktu 27 jam sehari sehingga mereka memiliki kelebihan 3 jam waktu lebih banyak dari waktu mahasiswa dan dosen di Indonesia. Jawabannya tidak dan tidak. Permasalahan nyata adalah mereka mau dan kita tidak berubah.
Untuk meraih predikat perguruan tinggi idaman dan dapat dibanggakan. Pihak perguruan tinggi dalam hal ini dosen mesti merubah sistem cara pengajaran yang monoton dan “hanya mengajar diri sendiri” bukan mahasiswa menjadi sistem pengajaran aktif atau umpan balik. Permasalahan yang dihadapi dunia ilmu pengetahuan sehingga mahasiswa dan dosen diuntut untuk menggali khasanah ilmu pengetahuan yang lebih jauh, tidak hanya dari sekedar apa yang terjadi di masa lalu. Dengan sedikit merubah sistem pengajaran menjadi lebih baik diharapakan kualitas lulusan yang dihasilkan adalah kualitas lulusan yang mandiri dan mampu memecahkan masalah yang terjadi dari sudut pandang ilmu pengetahuan luas. Sehingga akan berimplikasi kepada nama baik perguruan tinggi. Menjadi perguruan tinggi idaman di banggakan adalah bukan tujuan, namu prosesnya yang menjadi tujuan utama. Diharapakan sistem pendidikan Robert Langdon dan Katherine Watson bisa menjadi angin segar bagi perubahan Universitas Islam Indonesia pada khususnya menjadi perguruan tinggi favorit di indonesia, perguruan tinggi terbaik dan berkualitas serta berakhlak tinggi.

  1. artikelnya keren mas ikhsan..
    selamat yah udah menang🙂
    salam kenal

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: