KU GADAIKAN KAMPUSKU DENGAN KTM KU

Salah satu barang yang sering di pinjam dengan KTM

Salah satu barang yang sering di pinjam dengan KTM

Beberapa waktu yang lalu ketika penulis mengembalikan peminjaman compact disc di sebuah tempat di kawasan bulak sumur. Setelah mengembalikan compact disc yang penulis pinjam, penjaga tempat tersebut merogoh sebuah kotak yang berisi kartu identitas untuk mencari identitas kartu tanda penduduk (KTP) milik penulis yang di jamikan sewaktu meminjam compact disc tersebut. Ada satu hal yang membuat penulis heran dan miris yaitu kenyataan bahwa kartu tanda mahasiswa(KTM) yang di seharusnya digunakan sebagai sebuah kebanggaan menjadi seorang mahasiswa sebuah universitas idaman di Indonesia yaitu Universitas Islam Indonesia justru sekarang ini telah banyak di salah gunakan sebagai jaminan dalam peminjaman hal yang bukan seharusnya.

Bagi sebagian orang dan bagi pengelola universitas mungkin ini merupakan hal yang tidak perlu di pertentangkan atau bahasa kerennya “biasa saja”. Namun, jika merunut dari beberapa hal positif dan negatif yang mungkin bisa terjadi maka sebaiknya pihak-pihak yang bersangkutan mulai mengusahakan sesuatu yang mungkin bisa menjadi nilai tambah positif, bagaimanapun juga nama almamater adalah sesuatu yang teramat penting untuk di jaga bukan untuk di jaminkan.

Pada dasarnya kartu mahasiswa (KTM) dikeluarkan pada saat seseorang secara resmi telah terdaftar sebagai seorang mahasiswa di sebuah universitas. Jadi dapat dikatakan bahwa KTM adalah sebagai sebuah identitas diri kemahasiswaan, kartu “sakti” ini dapat digunakan untuk transaksi peminjaman buku di perpustakaan. Inilah sebenarnya momok yang terjadi di setiap mahasiswa, dikarenakan beberapa mahasiswa terlalu banyak memiliki waktu luang karena dosen tidak memberikan tugas membaca buku kemudian merangkum isi bacaan, perpustakaan pun kosong dari makhluk bernama mahasiswa. Kebiasaan beberapa dosen yang lebih senang mengajar tanpa meninggalkan tugas telah ditengarai menjadi masalah secara tidak langsung berpindahnya fungsi KTM dari perpustakaan ke tempat-tempat yang tidak sepatutnya perlu. Belum lagi peran teknologi informasi yang sangat pesat dengan ditemukannya scanner sehingga peminjaman buku dewasa ini cukup dengan menggunakan scanner untuk memindai data mahasiswa yang telah disimpan di dalam kartu mahasiswa ke dalam sistem informasi peminjaman di perpustakaan.

Perlu ada usaha untuk menahan laju penggunaan kartu mahasiswa sebagai barang penjamin untuk hal-hal yang tidak perlu. Bukan hal yang gampang memang untuk merubah sikap, pola dan perilaku mahasiswa. Namun setidaknya usaha nyata bisa dilakukan. Betapa malunya Almamater ketika kartu tanda mahasiswa yang seharusnya di jaga dengan baik karena terdapat lambang kebesaran universitas yang bersangkutan malah di jadikan barang dagangan murahan. Mungkin saja terjadi bahwa sang pemegang kartu tanda mahasiswa menggadaikan kartu tanda mahasiswanya untuk meminjam compact disc yang illegal atau porno, Atau bagaimana ketika barang yang dipinjam tidak di kembalikan. Rumit memang, sang mahasiswa mungkin saja bisa dengan mudah mengurus kartu mahasiswa baru dengan biaya murah, cukup 25 ribu saja. Tapi bagaimana dengan nama almamater yang sudah di buat malu.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk setidaknya mengurangi frekuensi ‘penggadaian” nama almamater ini, contoh:

• Memperbanyak tugas kuliah yang mengharuskan mahasiswa lebih banyak berkutat ke buku dan perpustakaan.

• Mengganti sistem scanner dan kembali ke mode peminjaman dahulu yang menahan kartu mahasiswa di perpustakaan.

• Pengembalian kartu mahasiswa ke pihak kampus setelah mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan lulus atau tidak lagi menjadi mahasiswa di kampus yang bersangkutan.

• Mengintegrasikan kartu mahasiswa dengan kartu ATM.

Memperbanyak Tugas Kuliah

Memberikan tugas kuliah setiap selesai kuliah tergantung kepada sang dosen. Beberapa dosen yang tidak mau repot lebih senang menilai kualitas mahasiswa dari hasil ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Dosen yang senang akan proses akan lebih memilih melihat kemampuan mahasiswa dari tugas-tugas yang diberikan. Memberikan tugas setiap pertemuan kuliah memang agak repot bagi dosen karena harus memeriksa setiap lembar tugas mahasiswa. Namun dengan cara yang sederhana dan memang seharusnya dilakukan oleh setiap dosen, diharapkan tingkat penggunaan kartu tanda mahasiswa (KTM) untuk hal-hal yang tidak semestinya dapat dikurangi.

Menjadi perguruan tinggi yang diidamkan dan dibanggakan memang bukan perkara mudah, sesuatu yang bahkan mungkin terlihat sepele seperti kartu tanda mahasiswa jika tidak di benahi maka pamor dari universitas bisa langsung turun di masyarakat. Ketika menonton film monalisa smile yang dibintangi oleh artis kawakan Julia Robert yang berperan sebagai dosen, dan juga menilik kepada sistem pendidikan luar negeri yang sangat berkelas. Penulis sebenarnya menjadi iri dengan kualitas mahasiswa di Negara barat. Mereka diarahkan belajar sendiri, dosen membuka kelas hanya dengan memperlihatkan beberapa gambar atau menampilkan topik menarik yang akan menggiring kelas ke suasana diskusi. Diskusi ini bukan tanpa persiapan, namun para mahasiswa telah diarahkan untuk membaca sendiri dari literature yang telah di sampaikan oleh sang pengajar. Dalam sebuah seminar tentang paradigma pendidikan tinggi di Indonesia di sebuah universitas besar di bandung, Rhenald Kasali mengatakan memang akan sulit untuk menerapkan pola pendidikan seperti ini di Indonesia namun harus di coba, satu hal yang penting adalah dosen harus siap untuk perubahan ini. Niscaya, jika perubahan ini untuk menjawab tantangan lebih baik, mahasiswa mau tidak mau akan mulai menyiapkan diri, tidak ada waktu kosong lagi karena waktu digunakan secara berkualitas sehingga kesempatan untuk menggadaikan Kartu mahasiswa utnuk hal pinjam meminjam dapat mulai dikurangi karena mahasiswa telah disibukkan dengan aktifitas perkuliahan. Kalau boleh menggubah sedikit sebuah jargon acara kriminal di televisi “ menggadaikan kartu mahasiswa bukan karena ada niat tetapi karena banyaknya waktu mahasiswa yang kosong”.

Cara Tradisional Tidak Selamanya Buruk.

Banyak orang beranggapan untuk menjadi sebuah universitas yang dibanggakan, berkelas dan juga idaman maka harus mulai mengikuti arus perubahan teknologi dan hal-hal yang masih bersifat tradisional harus mulai di tinggalkan. Jika hal semacam itu terlalu dipercaya maka kita harus tahu bahwa dampak dari teknologi memang banyak dirasakan positif namun juga teknologi banyak menggiring manusia ke arah yang negatif.

Seperti halnya dengan digantinya sistem ‘koleksi KTM” di perpustakaan dengan sistim scanner yang tidak lagi mewajibkan mahasiswa untuk mengumpulkan kartu tanda mahasiswanya karena sistem scanner sudah memindahkan data mahasiswa yang telah tertanam di kartu kedalam computer.

Bagi penulis, sistem ini sangat bagus karena membantu tugas para librarian lebih cepat, namun dampaknya adalah mahasiswa bisa melenggang bebas membawa kartu mahasiswanya kemana-mana. Meminjam buku tidak menjadi tanggung jawab “Buku ini harus aku baca biar cepat aku kembalikan”. Peminjaman terasa hambar karena buku hanya akan menjadi bunga di kamar mahasiswa “ ini aku seorang mahasiswa yang super sibuk”.

Harus ada sinkronisasi antara sistem tradisional dan sistem modern. Penggunaan sistem modern digunakan untuk mempercepat kerja. Penggunaan sistem tradisional diperuntukkan untuk memberikan efek baik bagi keberlanjutan. Semua ini juga akan terlaksana dengan baik jika poin sebelumnya dimana dosen memberikan tugas dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Jika hal ini terjadi mimpi menjadi universitas yang idaman dan berkualitas dapat cepat dicapai.

Mengembalikan Sesuatu Yang Bukan Hak Milik

Satu hal yang sangat mengganggu dan sangat tragis adalah keacuhan dari pengelola untuk meminta kembali haknya kepada mahasiswa yang telah lulus atau tidak lagi menjadi mahasiswa di universitas yang bersangkutanb yaitu kartu mahasiswa.

Dengan alasan memberikan kenang-kenangan kepada mahasiswa yang telah lulus, maka kartu tanda mahasiswa yang telah digunakan sejak awal tidak ikut ditarik oelh pihak kampus seiring dengan di wisudanya sang mahasiswa. Atau mungkin sekedar dilubangin sehingga kartu”sakti” tersebut tidak dapat digunakan lagi untuk melakukan peminjaman.

Banyak sekali kartu-kartu mahasiswa illegal yang digunakan untuk melakukan peminjaman di rental disc meskipu sang empunya nama di kartu telah lulus atau bukan lagi berstatus mahasiswa di universitas yang bersangkutan. Kartu ini berseliweran dari satu tempat ke tempat lain. Ketika sang empunya kartu di terima kerja atau mungkin pindah jadilah nama alamamater yang rusak karena kartu telah digunakan sebagai jaminan, sedangkan barang yang dipinjam tidak dikembalikan.

Gerakan Gemar Menabung Dimulai Dari Kampus

Tanggal 20 februari 2010 presiden republik Indonesia mencanangkan gerakan gemar menabung dengan tujuan mengajak masyarakat untuk menyimpan uangnya di bank. Penulis berpendapat bahwa hal ini dapat dimulai di kampus untuk mengajak mahasiswa untuk mulai gemar menabung dengan cara mengintegrasikan kartu tanda mahasiswa dengan kartu ATM sehingga kemungkinan menggunakan kartu tanda mahasiswa sebagai jaminan peminjaman dapat dikurangi. Jika seorang mahasiswa menggunakan kartu tanda mahasiswa sebagai kartu ATM juga maka dapat dipastikan mereka tidak akan begitu saja menggunakan kartu yang benar-benar sakti yang berisi uang untuk sekedar menjaminkan dengan barang yang tidak seharusnya.

Pihak kampus dapat melakukan kerjasama dengan pihak bank untuk menyediakan paket tabungan bagi mahasiswa yang tidak dikenai biaya bulanan namun memberikan bunga kompetitif kepada mahasiswa. Dengan potensi sekitar 3000 mahasiswa yang diterima setiap tahun dan juga puluhan ribu mahasiswa yang masih aktif menyelesaikan kuliah maka program kerjasama ini bisa dilakukan dengan baik.

Alih-alih melaksanakan dan membantu program pemerintah dalam mewujudkan gerakan gemar menabung, program mengembalikan fungsi kartu tanda mahasiswa ke jalan yang benar dapat terlaksana dengan baik. Beberapa universitas besar dan ternama di Indonesia telah menggunakan cara ini untuk membantun kemudahan mahasiswa akan kebutuhan tabungan dan juga mengurangi frekuensi penggunaan kartu tanda mahasiswa untuk hal yang bukan-bukan. Tidak bermaksud membandingkan, namun jika itu bagus untuk digunakan dan dicontoh mengapa tidak.

Kartu Tanda mahasiswa memang kecil, pas disimpan di dompet, pas untuk digunakan di semua tempat, namun jika tidak ada tindakan nyata untuk mengatur frekuensi penggunaanya kepada tempat yang bukan seharusnya, bukan tidak mungkin universitas akan mengalami masalah serius dengan benda kecil ini.

  1. udah di tebus gadaiannya?😀

  2. betul . . . betul . . .
    tapi yang ganti ke mode konvensional kayaknya susah tu . . .

    sukses buat kampus idamannya

    • wah setelah lihat facebook masnya…ternyata masnya juga anak industri ya, angkatan 2008, berarti di ajar ma mas ilham ya…aku juga anak industri angkatan 2003 seangkatan ma mas ilham, dulu juga jadi asissten bareng di lab data mining, salam untuk mas ilham kalau ketemu. artikelnya kampus idamnnya bagus tapi mau komen bingung gak bisa-bisa soalnya gak biasa pake blogspot..hehehehe…oh ya jangan lupa baca juga tulisan saya yang kedua tentang membangun kampus idaman

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: