Memangnya Presiden Doang Yang Bisa Curhat : Kumpulan Curhat Anak Bangsa Untuk Presiden Yang Suka Curhat

PRESIDEN TUKANG CURHAT : MAU JADI APA BANGSA INI (CURHAT SAYA)

hari ini di depan polri, presiden curhat masalah demokrasi, kemarin pas isu 100 hari kepemimpinan curhat masalah kerbau, tanggal 25-01- 2010 curhat lagi di depan TNI tentang century. saya jadi bingung mau jadi apa pemerintahan sekarang kalau presidennya curhat terus ke masyarakat, kapan masyarakat kecil seperti kami yang cari makan susah, sekolah susah, berobat susah, cari kerja susah semuanya susah curhat pada bapak. kalo memang da gak kuat mundur aja pak daripada di mundurin secara aklamasi.
hal-hal gak penting di curhatin, kalau terus curhat berarti belum siap menjadi presiden, kami tidak siap punya presiden yang tidak siap dan seperti anak kecil. saya pribadi bilang seperti anak kecil karena sudah malas melihat partai pemenang ini yang kadernya”mulutnya jorok” yang ngomong jorok lagi rapat di dewan,
isu reshuffle kabinet karena beberapa partai tidak mendukung kasus bailout century adalah kekanak-kanakan. karena tidak di dukung partai pendukung koalisi kabarnya partai pemenang akan melakukan reshuffle kabinet. kalau seperti ini benar anggapan kalau politik yang sedang di bangun adalah politik sampah yang bagi-bagi kekuasaan. politik sekarang ini adalah lebih ke “Koalisi Ketuhanan” yang artinya partai pemenang yang membuat koalisi adalah menjadi “Tuhan” yang berhak mendapat dukungan dari peserta koalisi di dalamnya, entah yang menang pemilu itu benar atau salah, kita harus dukung karena kita masuk di koalisinya, kalau gak mau dukung anda silahkan MURTAD dari koalisi.
kalau memang partai pemenang ingin membangun demokrasi dan memberikan pelajaran demokrasi yang baik bagi masyarakat seharusnya biarkan orang lain berbicara yang mereka anggap benar, jangan jadikan politik untuk cari muka, cari uang dan cari selamat. bukan dengan mengancam, kalau dah mengancam kayak gini ketahuan deh bosoknya, mimpin negeri cuma buat cari uang bukan mensejahterakan rakyat, klau kayak gitu “TUHAN DEMOKRASI” yaitu rakyat pasti gak betah dan mungkin gak akan kepilih lagi (oh iya, 2014 kan dah gak boleh menjabat lagi, kecuali undang-undang di rubah buat 3 kali masa jabatan…heheheh)

“Hobi” Curhat, Presiden Kurang Smart!(MSN)

Lagi-lagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkeluh kesah di hadapan publik. Dia mengeluhkan aksi demosntran yang mengibaratkan dirinya seperti seekor kerbau saat aksi 100 hari pemerintahan SBY-Boediono.

“Hobi” curhat itu pun dinilai miring oleh berbagai kalangan. SBY dinilai tidak siap menjadi Presiden karena terus mengeluh.

“Seharusnya bisa lebih menahan diri, elegan, dan smart!” kata anggota DPR Fraksi Gerindra Desmon Mahesa kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (3/2/2010).

SBY, lanjut dia, seharusnya bisa menunjukkan karakter kepemimpinan yang tegar dan tidak suka mengeluh. Namun menurut Desmon, “hobi” curhat itu dimanfaatkan SBY untuk berkampanye di depan publik.

“Tapi kalau tiap ada masalah ditanggapi, ini kan imun. Itu justru menurunkan wibawanya,” imbuhnya.

Di samping itu, sebagai Presiden, SBY seharusnya lebih peka mendengar suara rakyat. Rakyat butuh pemimpin yang mengayomi daripada pemimpin yang suka mengeluh.

“Kalau pemimpinnya saja mengeluh, apalagi kita rakyatnya?” tandasnya.

Curhat Soal Century ke TNI, SBY Dinilai Berlebihan(POS KOTA)

Curahan hati alias curhat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal bailout terhadap Bank Century pada Rapat Pimpinan TNI dianggap terlampau berlebihan.
“Saya kira itu terlalu berlebihan, TNI itu tidak berpolitik dan persoalan Century kini sedang ditangani secar politi, apa maksudnya cerita begitu,” kata pengamat politik UI, Boni Hargens, semalam.

Menurutnya banyak hal yang bisa disampaikan di depan perwira tinggi TNI terutama yang menyangkut soal anggaran pertahanan, soal senjata, kesejahteraan prajurit dan semacamnya. “Bukan soal politik dibawa ke ranah TNI,” jelasnya.

Dalam pembukaan Rapat Pimpinan TNI di Cilangkap SBY mengungkapkan persoalan bailout Bank Century. Dia mengajak perwira tinggi TNI memahami situasi krisis global akhir 2008 yang mengancam stabilitas. ”Untuk memahami, kita harus melihat keadaan waktu itu seperti apa. Jangan membayangkan seperti Januari 2010, di mana situasi ekonomi internasional membaik saat pansus DPR bekerja,” paparnya.

Hadir dalam pembukaan Rapim Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menhan Poernomo Yusgiantoro, Menkeu Sri Mulyani, Mensesneg Sudi Silalahi, Meneg BUMN Mustafa Abubakar dan Menristek Suharna Surapranata, seluruh Pati Mabes TNI, seluruh Pangdam, dll.

SBY juga mengatakan bahwa bailout itu merupakan kebijakan pemerintah yang tidak bisa dipersalahkan. “Kalau dipidanakan, maka tidak ada pejabat yang berani mengambil kebijakan,” ucap SBY.

Dalam kesempatan tersebut Presiden juga mengingatkan agar Pansus tidak menyimpang dari tujuan awal, yakni menjawab keraguan soal bailout Bank Century. “Harus jernih, kontekstual, lurus untuk mencari tahu seluk beluk dibentuknya kebijakan,” katanya.

Sering Curhat, Bukti SBY Tidak Kuat(KOMPAS)

Salah seorang aktivis yang tergabung dalam Petisi 28, Masinton Pasaribu menyesalkan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kerap curhat kepada rakyat, terkait kritisi oleh para elemen massa saat menggelar aksi. Terakhir, Presiden SBY menyesalkan aksi massa pada 28 Januari lalu yang membawa kerbau dalam aksi itu. Saat aksi digelar, pada tubuh kerbau ada coretan cat berwarna putih bertuliskan “SiBuYa”.
Presiden SBY yang selalu curhat ke publik, jelas membuktikan bahwa SBY tidak memiliki talenta kepemimpinan yang kuat.

“Kami melihatnya, Presiden SBY yang selalu curhat ke publik, jelas membuktikan bahwa SBY tidak memiliki talenta kepemimpinan yang kuat. Seorang pemimpin harus mampu mengayomi, tegar dalam situasi apa pun, dan pantang mengeluh di hadapan rakyat,” kata Masinton kepada Persda Network, Rabu (3/2/2010).

Ia kemudian menegaskan, sebagai seorang Presiden, SBY tidaklah dianggap pantas dan tidaklah bisa dianggap etis bila selalu curhat dan berkeluh kesah ke publik. Apalagi keluh kesah SBY, dianggapnya tidak memiliki urgensi dan relevansinya dengan persoalan kenegaraan dan kerakyatan saat ini.

“Seperti kemiskinan yang terus meluas, harga kebutuhan pokok yang semakin mahal, korupsi yang merajalela, dan ancaman PHK massal pascapemberlakuan ACFTA. Bagi saya, curhat SBY salah kaprah, karena yang layak berkeluh kesah adalah rakyat karena pemerintahan SBY belum mampu menciptakan kesejahteraan untuk rakyat seperti yang dijanjikan SBY dalam kampanyenya saat pilpres 2004 dan 2009,” tandas Masinton lagi.

“Kalau dalam bahasa gaulnya anak muda saat ini model curhatnya SBY dianggap sebagai ‘lebay’ yang berarti suka mengada-ada untuk mendapatkan perhatian,” katanya lagi.

Ketua Fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum dalam pernyataannya kemudian meminta agar aspirasi dengan cara menggelar aksi demontrasi dilakukan dengan cara beretika dan kepatutan.

“Sebagai bagian dari ekspresi politik dan kebebasan berpendapat, demonstrasi adalah hal yang wajar, dan biasa saja. Bahkan secara sadar, itu dilindungi, diberi kesempatan dan diatur oleh undang-undang. Tetapi, demonstrasi tetap membutuhkan panduan etika,” kata Anas.

“Kalau tanpa etika, demonstrasi tidak akan menjadi ekspresi demokrasi dalam sikap kritis. Justru demonstrasi yang tuna etika akan menjadi kepanjangan dari kebencian dan ketidakdewasaan. Karena itu, sebaiknya demonstrasi dijauhkan dari cara-cara yang kasar dan tanpa etika,” Anas menegaskan.

Desmond J Mahesa, mantan aktivis yang kini anggota Komisi III DPR dari fraksi Partai Gerindra punya argumen lain terkait sikap presiden yang kerap menanggapi aksi yang dilakukan oleh beberapa elemen massa, mengkritisi kinerja pemerintah.

“Kalau hanya satu atau dua kali curhat, mungkin tak masalah. Akan tetapi, kalau tiap kali curhat, masyarakat jadi imun. SBY kan penguasa, pemimpin yang justru harus menunjukkan ketegaran dan kekuatannya. Penguasa kok malah sering curhat,” sesalnya.

BOM dan Curhat Presiden SBY(DHIPA GALUH PURBA)

Saya turut berbelasungkawa terhadap para korban bom JW Marriott dan Ritz-Carlton, yang terjadi pada hari Jumat, 17 Juli 2009. Semoga mereka, para korban yang tidak berdosa itu mendapatkan tempat yang mulia di sisi Tuhan.

Tentu, semoga pula para pelaku tindakan biadab tersebut segera ditangkap dan diadili. Apapun alasannya, pengeboman itu sangat tidak manusiawi dan patut dikutuk, karena sudah tidak usah diragukan lagi merupakan perbuatan terkutuk.

Ini merupakan salahsatu bukti lemahnya keamanan Republik Indonesia, paling tidak merupakan suatu kelengahan dari aparat keamanan kita. Para penegak hokum hanya terlihat gagah berani ketika menghadapi rakyatnya sendiri yang tidak bersenjata, semisal menghadapi para demonstran yang mencari keadilan, rakyat kecil yang lahannya digusur, atau para razia PSK yang kehabisan akal mencari kehidupan. Tetapi, pada saat menghadapi teroris yang menebar ancaman berbahaya, bisa-bisanya lolos dari penjagaan aparat keamanan. Padahal, Presiden SBY sering mengatakan bahwa pemerintahannya sangat mengutamakan stabilitas keamanan.

Namun sangat disesalkan ketika Presiden SBY begitu mudahnya mengaitkan peristiwa peledakan bom dengan perolehan hasil Pemilu. Dalam pidatonya di Istana Negara, Presiden SBY secara implisit menyatakan bahwa pelaku pengeboman diduga pihak yang kecewa dengan hasil Pemilu Presiden 2009. Seperti yang kita ketahui, banyak sekali pihak yang kecewa dengan hasil Pemilu, dikarenakan ketidakbecusan KPU dalam melaksanakan amanatnya. Persoalan DPT, penggelembungan suara, keberpihakan Ketua KPU kepada calon tertentu, dan lain-lain, merupakan faktor yang menjadikan kekecewaan pada hasil Pemilu. Tetapi, bukan berarti kecewa pada hasil pemilu lantas melakukan teror bom. Tidak semestinya tragedy tersebut dipolitisasi untuk menjatuhkan lawan politik Presiden SBY. Ini sangat berbaha, karena bisa mengakibatkan konflik horizontal antara kelompok yang puas dan kelompok yang tidak puas pada hasil pemilu. Sudah mah tidak puas pada hasil pemilu, diduga teroris lagi.

Termasuk pidato “curhat” Presiden SBY sambil memperlihatkan foto-foto yang mengancam keselamatan dirinya, secara tidak langsung justru membeberkan kelemahan aparat keamanan. Dari mana foto-foto tersebut? Kenapa orang-orangnya tidak ditangkap? Keterlaluan kalau aparat keamanan tidak bisa menangkat orang yang mengancam keselamatan presiden. Saya pikir, lebih baik polisi segera bergerak dan bertindak dengan cepat menangkap orang-orang tersebut, lalu beberkan kepada media hasilnya. Memperlihatkan foto-foto kepada rakyat, justru hanya akan menimbulkan kecemasan. Saya juga sangat cemas terhadap keselamatan Presiden SBY setelah melihat poto-poto tersebut.

Sebelumnya, Presiden SBY pun telah mempertontonkan adegan satu babak “perbincangan via telepon selular” dengan Wapres Moch. Jusuf Kalla, yang belakangan saya baru tahu kalau Jusuf Kalla tidak menyadari kalau perbincangannya itu ditayangkan di televisi. Seperti adegan di sinetron saja.

Akhirnya saya menganalisis bahwa pidato Presiden SBY kemungkinan untuk mengalihkan perhatian masyarakat pada hasil Pemilu. Presiden SBY sudah dipastikan memperoleh suara terbanyak dan terpilih lagi menjadi presiden pada periode selanjutnya. Jadi, beliau tidak mau ada pihak-pihak yang mempersoalkan permasalahan KPU, serta ingin melenggang ke istana tanpa ada hambatan apa-apa. Saya pun berharap demikian, semoga Presiden SBY selamat dan tentu dilantik lagi menjadi presiden tanpa halangan apapun, jika hal itu sudah merupakan kehendak rakyat. Memang sudah semestinya begitu. Namun, rasanya lebih bijak lagi jika tidak melukai hati rakyat yang kecewa terhadap kinerja KPU. Jelas, saya salahseorang yang sangat sangat kecewa terhadap ketidakbecusan KPU dalam menjalankan amanat rakyat.


Desmon Mahesa: Tolong SBY Berhenti Curhat

Partai Gerindra jengah dengan curhat-curhat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya. Aksi Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu dinilai malah mengurangi wibawanya.

“Kalau satu sampai dua kali curhat itu tidak apa-apa. Tapi setiap kali curhat, kita menganggapnya beda,” kata Sekretaris Fraksi Partai Gerindra Desmon Mahesa di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Rabu (3/2).

Menurut Desmon, mungkin kebiasaan SBY curhat itu untuk mendapatkan simpati. Tapi, SBY sendiri bukanlah orang lemah. “Dia kan penguasa, penguasa itu harus menunjukan kepemimpinan dan ketegasan,” kata Desmon.

Desmon berharap, sikap SBY yang selalu berkeluh kesah menunjukan kepemimpinan yang lemah. Fenomena ini malah menjadi pikiran bagi rakyat. “Artinya, SBY tidak siap menjadi pimpinan. Harusnya dia mengayomi, jangan curhat ke kita. Apalagi kita rakyat,” kata Desmon

SBY CURHAT SOAL KERBAU

Seharusnya pemerintah menjawab kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintah, bukan membahas cara demonstrasi.

DEMONSTRASI yang marak di sejumlah kota akhir-akhir ini menarik perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY mempertanyakan apakah aksi-aksi itu sesuai dengan semangat demokrasi yang tumbuh selama ini.

Memang demonstran tampil dengan rupa-rupa cara. Mulai dari menginjak-injak dan membakar foto Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani, berteriak maling, hingga membawa kerbau. Saat demonstrasi di Jakarta memperingati 100 hari pemerintahan SBY-Boediono pada 28 Januari lalu, demonstran juga mengarak seekor kerbau.

Kemarin di Istana Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Presiden curhat (mengutarakan curahan hati) mengenai aneka unjuk rasa. “Ada yang membawa kerbau, SBY badannya besar, malas dan bodoh seperti kerbau, dibawa itu, apa ya itu unjuk rasa sebagai ekspresi kebebasan, lantas foto diinjak-injak, dibakar-bakar di mana-mana di daerah, silakan dibahas dengan pikiran yang jernih, menyelamatkan demokrasi kita, menyelamatkan budaya kita, menyelamatkan peradaban bangsa,” kata Presiden saat membuka rapat dengan seluruh anggota Kabinet Indonesia Bersatu II dan semua gubernur yang membahas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Menurut Presiden, dia mendapat banyak masukan mengenai demonstrasi dan beberapa di antaranya cukup menggelitik. “Contohnya, Pak SBY, apa cocok misalkan ada unjuk rasa dengan loudspeaker yang besar sekali, teriak-teriak SBY maling, SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling, dan tidak bisa diapa-apakan,” kata Kepala Negara.

Masukan juga terkait sejumlah aksi teatrikal dalam demonstrasi yang dinilai tidak patut. “Apakah unjuk rasa di negara Pancasila, di negara yang konon memiliki budaya, nilai peradaban yang baik, mari kita bicarakan dengan baik, tanpa mengganggu demokrasi itu sendiri, kebebasan, ekspresi, dan sebagainya,” kata SBY lagi.

Semua yang terjadi itu dapat dengan mudah dilihat dunia melalui informasi teknologi yang luar biasa canggih. Karena itu, Presiden meminta agar perkembangan itu dibicarakan dalam kelompok kerja yang membahas reformasi birokrasi, penegakan hukum, demokrasi, dan keamanan.

Tetapi, tegas SBY, semangatnya tidak untuk memasung demokrasi.

Saat menanggapi itu, aktivis Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi mengatakan sebenarnya tidak perlu Presiden mengomentari cara demonstrasi termasuk membawa kerbau, tetapi mencari solusi untuk menjawab tuntutan masyarakat. “Mengenai membawa kerbau, itu cuma kreativitas massa. Pemerintah seharusnya menjawab kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintah, bukan membahas cara aksi,” tegasnya.

Enam pokja
Selama di Cipanas, Presiden membagi menteri, gubernur, staf ahli, dan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menjadi enam kelompok kerja (pokja). Keenam pokja itu membahas tata ruang, pangan, energi, infrastruktur, program-program prorakyat dan reformasi birokrasi, penegakan hukum, demokrasi, keamanan, dan sebagainya.

Rapat kemarin diwarnai kehadiran Ketua Pelaksana Tugas (Plt) KPK Tumpak Pangggabean. Undangan untuk acara yang semestinya dihadiri Tumpak telah dibatalkan, namun pemberitahuan pembatalan itu belum sampai pada yang bersangkutan. Saat acara hendak dibuka, Tumpak meninggalkan Istana Cipanas didampingi Wakil Sekretaris Kabinet Lambock Nahattands

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: